
Harga minyak sedikit menguat pada Jumat (31/10) setelah sesi perdagangan yang volatil, dipicu oleh laporan yang menyebutkan serangan udara AS terhadap Venezuela bisa dimulai dalam beberapa jam, namun mereda setelah Presiden Trump membantah laporan tersebut. Satuan tugas AS dikerahkan di lepas pantai Venezuela, jauh melampaui kebutuhan untuk menyerang pengedar narkoba di Karibia. Sementara itu, dolar AS menguat ke level tertinggi tiga bulan, membuat minyak yang berdenominasi dolar menjadi lebih mahal. Pasokan minyak juga dipengaruhi oleh rencana Arab Saudi menurunkan harga minyak mentah untuk pembeli Asia pada Desember. Harga minyak diperkirakan turun pada Oktober, dengan Brent dan WTI masing- masing diperkirakan turun 2,6% dan 2%, seiring peningkatan produksi dari OPEC dan produsen non-OPEC lainnya. Pasokan yang lebih besar ini juga mengurangi dampak dari sanksi Barat terhadap ekspor minyak Rusia. Meski ada optimisme terkait pembelian energi AS oleh Tiongkok, banyak analis yang skeptis bahwa kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok akan secara signifikan meningkatkan permintaan energi AS. Sebuah survei memperkirakan harga Brent akan mencapai $67,99 per barel pada 2025, sementara WTI di $64,83. OPEC+ diperkirakan akan meningkatkan produksi moderat pada Desember.
DISCLAIMER
Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.
