Harga emas global (spot gold) berada di kisaran USD 4.124 – USD 4.133 per troy ons, sementara IHSG menguat di atas level 6.100.

Kebijakan suku bunga The Fed (Federal Reserve) diperkirakan bertahan tinggi lebih lama akibat tekanan inflasi dan risiko energi, yang turut mempengaruhi pergerakan pasar komoditas dan bursa saham. Pergerakan pasar modal dan komoditas global hari ini menunjukkan harga emas spot dunia melesat di kisaran USD 4.124 hingga USD 4.129 per troy ons, sementara IHSG ditutup melemah tipis 0,09% ke level 6.334. Pasar saat ini bergerak sangat dinamis merespons sentimen global dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed) serta ketidakpastian makroekonomi

Harga Indeks Emas (Gold) Global

  • Harga Spot Global: Emas spot bergerak di kisaran USD 4.124 – USD 4.129 per troy ons, setelah sempat menyentuh level tertinggi dua pekan di USD 4.165.
  • Harga Logam Mulia Domestik: Berdasarkan data pasar kontan, harga emas batangan domestik berada di level Rp 2.635.000 per gram.
  • Sentimen Utama: Lonjakan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi. Di sisi lain, indeks dolar AS yang melemah membuat emas menjadi lebih murah bagi investor non-dolar, sehingga memicu aksi beli.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

  • Posisi Terakhir: IHSG parkir di level 6.334, mengalami penurunan tipis -5,54 poin (-0,09%) setelah sempat memutus reli kenaikan panjang.
  • Kondisi Pasar: Sektor energi dan barang baku mengalami tekanan akibat gejolak harga komoditas global. Sejalan dengan pelemahan IHSG, nilai tukar rupiah juga melemah berada di kisaran Rp 17.910 – Rp 17.911 per dolar AS.

Pengaruh Kebijakan The Fed terhadap Emas & IHSG

Kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat merupakan motor penggerak utama volatilitas kedua aset ini:

  • Ekspektasi Suku Bunga: Jajak pendapat pasar menunjukkan bahwa The Fed diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level tinggi sepanjang sisa tahun ini akibat inflasi yang membayang. Lingkungan suku bunga tinggi secara teori membatasi daya tarik emas karena emas tidak memberikan imbal hasil (yield).
  • Dampak ke IHSG: Sentimen “higher-for-longer” (suku bunga tinggi dalam waktu lama) dari The Fed memicu penguatan yield US Treasury secara berkala, yang memicu aliran dana keluar (outflow) dari pasar berkembang seperti Indonesia. Akibatnya, investor asing cenderung bersikap wait and see, yang menekan pergerakan IHSG.

DISCLAIMER
Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.