
Harga emas melonjak pada Kamis (11/12), mencapai level tertinggi dalam lebih dari sebulan setelah Federal Reserve AS memangkas suku bunga sebesar 25 bps dan menekan dolar AS ke level terendah delapan minggu. Pelemahan dolar membuat emas lebih murah bagi pembeli luar negeri, sementara perak justru melesat ke rekor tertinggi dan ikut “menarik” emas, platinum, dan paladium berkat momentum kuat di logam mulia, menurut analis Marex, Edward Meir. The Fed mencatat pemotongan suku bunga seperempat poin ketiga berturut-turut, namun memberi sinyal kemungkinan jeda sambil memantau inflasi yang “masih agak tinggi” dan tren pasar tenaga kerja. Meir menilai, ketika suku bunga dipangkas sementara inflasi belum kembali ke target 2%, kondisi itu sangat bullish bagi emas. Suku bunga yang lebih rendah memang cenderung menguntungkan emas sebagai aset tanpa imbal hasil. Secara politik, Presiden AS Donald Trump terus mendorong suku bunga lebih rendah dan calon ketua The Fed berikutnya diprediksi akan melanjutkan sikap tersebut, dengan penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett dipandang sebagai kandidat utama. Investor kini menunggu rilis data non-farm payroll AS pada 16 Desember untuk petunjuk tambahan arah kebijakan The Fed. Dari Asia, regulator pensiun India juga memberi angin segar bagi emas dan perak dengan mengizinkan dana pensiun negara berinvestasi dalam ETF berbasis kedua logam tersebut.
DISCLAIMER
Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.
